Seni Hidup Minimalis

 


Setelah membaca seni hidup minimalis kita akan sadar bahwa nyatanya banyak waktu kita terbuang hanya untuk mengurusi hal-hal kecil. Sekedar peralatan yang berserakan, kamar mandi berantakan, piring-piring kotor, baju-baju kotor, bahkan ruang tamu yang hampir mirip gudang penyimpanan. Mengapa demikian? jawabannya karena kita tidak memperbaiki hal yang paling mendasar yaitu cara kita memperlakukan dan merespon barang. Yang lebih parah adalah ketika kita hanya mampu melihat dan memikirkannya tanpa benar-benar mengatasi dari akar masalahnya, hal itu terjadi karena kita sudah lelah untuk mengurusinya dan yang tertinggal hanya mengurusinya dalam alam pikiran yang pada akhirnya membuat kita lelah tanpa melakukan apa-apa.

Cara kita mengelola barang masih berantakan. Pikir kita saat ada yang membantu seperti teman, pasangan,keluarga atau mesin semuanya akan lebih mudah nyatanya tidak sama sekali, sebelum kita merubah kebiasaan kita. Mesin cuci tidak akan membantu kalau kita masih tidak punya pengelolaan kapan jadwal mencuci baju alhasil baju kotor tetap menumpuk, wastafel tetap akan penuh piring-piring kotor kalau seluruh keluarga tidak punya kebiasaan untuk mencuci setelah memakai perabotan. Semua hal hanya akan tetap berakhir sama jika tidak dirubah mulai dari dasar yaitu kebiasaan.

Mengelola barang harus kita atur mulai dari barang itu masuk rumah, penyimpanannya, penggunaannya dan akhir dari si barang. Kedua adalah bagaimana kita menyampaikan proses ini pada seluruh keluarga agar dapat terealisasi. Dimulai dari bagaimana barang itu masuk Kita sadar setiap membawa barang haruslah barang yang dibutuhkan. Realitanya tidak segampang itu apalagi bagi orang-orang yang tidak bisa membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebab bagi mereka semua barang merek butuhkan. Dalam proses ini tentu kita harus merombak mindset yang sudah terbangun sebelumnya. Kemudian penyimpanan barang, kita harus berhasil menyepakati Konsep ini berikut antisipasinya, sebab kadang orang-orang sekitar kita hanya ingat kesepakatan itu saat kita ada di sebelahnya. Lain hari bisa jadi lain cerita jadinya. Kemudian Bagaimana barang itu digunakan. Seringkali kita melihat seluruh keluarga serampangan tidak ada jadwal. Semua ini harus diatur dan disepakati bersama keluarga terakhir adalah bagaimana akhir dari si barang dibuang kah, digunakan kembali kah, atau dibagikan ke orang-orang sekitar yang lebih membutuhkan.

Komentar