Sisi Tergelap Surga

 Sisi Tergelap Surga Karya Brian Khrisna-


Membaca Sisi tergelap surga seperti melihat pengalaman saya pertama kali menapaki kaki di Jakarta. Orang-orang hidup berdampingan dengan tikus got, Jalanan ramai dengan klakson dan orang-orang yang menawarkan jualannya, ada juga hal-hal lain yang membuat alis Saya tidak berhenti mengernyit. Nyatanya dalam buku ini bahkan lebih ekstrem. Saya tidak bisa membayangkan orang-orang melakukan segala hal agar mampu bertahan esok hari. Satu hari lagi. Saya tidak bisa membayangkan apa saja yang mereka tahan untuk hari itu malu bercampur sedih kecewa bahkan keyakinan mereka sendiri berapa kali Mereka mengurungkan niat untuk bunuh diri? entahlah.

Meski penuh kehinaan dan kebangsatan hidup, buku ini tampil menyadarkan kita bahwa orang-orang yang merasa hina hidupnya tapi tetap bertahan ada di sekeliling kita. Bisa jadi mereka adalah orang tua kita yang melancong ke Malaysia atau sanak keluarga dan saudara kita yang pergi bekerja ke Jakarta atau Kalimantan. Salah satu kisah dalam novel ini mungkin pernah dirasakan oleh orang-orang terdekat kita.

Seperti Resti perempuan yang redup cahayanya setelah memutuskan menikah karena dianggap perawan tua. Padahal ia mampu berkarir Cemerlang sebagai lulusan IT, tapi harus berkutat menadah dan menunggu nafkah dari suami lewat joki pakemon. Anaknya kekurangan gizi wajahnya pucat berjerawat, ia bertahan dengan lindung.

Seperti Kun Cahyo, anak baik kebanggaan ibunya. Pagi bertarung dengan tai orang-orang di mall, malamnya makan nasi goreng masih dengan bau-bau yang menempel di badannya. Sedang ia menahan tangis setiap kali ditelepon ibunya sambil berkata dalam hati "pengen pulang saja Bu" Kalimat yang tidak akan didengar ibunya sampai kapanpun demi kebahagiaan ibunya.

Seperti Danang, Pemuda ideal tapi nyatanya bekerja sebagai waria- pemuas nafsu orang-orang palang Kepepet sange. Meski demikian ia mampu menamatkan kuliah adiknya agar adiknya dapat pekerjaan yang jauh lebih baik dari pekerjaannya. Bahkan bagi orang-orang Kampung Danang adalah satu-satunya pemuda yang cocok jadi imam masjid di kampung itu.

Apapun kisahnya nyatanya orang-orang hanya berusaha bertahan sebaik mungkin untuk orang-orang terkasihnya. Apakah mereka yang tersesat dengan menyedihkan salah? tentu. Namun siapa yang berhak menghakimi Tuhan. Hanya Tuhan. Bukan manusia. Sekali lagi bukan manusia. Bagi manusia memang paling mudah menghakimi kesalahan orang lain dan untuk diri sendiri adalah manusiawi untuk dinormalisasi. Manusia memang lucu.

Komentar